colorless
pagi ini terbangun dengan terngiang-ngiang dari tweet yang dilontarkan salah satu makhluk absurd yang pernah saya temui dalam hidup saya, sebut saja FI namanya. Hitam, wajahnya diisi dengan codet besar, dan lebih sering bego daripada benernya. Doi melontarkan kalimat ” gak penting sih,tapi serius gue jadi penasaran,rasanya kalo gak butawarna itu gimana”…..dan seketika saya memikirkan hal yang sama
saya buta warna parsial, tapi divonis oleh dokter pemeriksa kesehatan di UI buta warna total. Entah mana yang benar, tapi satu hal yang pasti dari berlembar-lembar tes warna itu saya hanya bisa menjawab dua halaman pertama. Sisanya? sampe memicingkan mata menyerupai elang pun ga dapet-dapet itu angka dan akhirnya menjawab dengan penuh percaya diri dan sedikit sotoy. “Itu 85” timpal si dokter ketika saya menjawab “S bu”, “Oh sial salah lagi anjrit” hahahhaha.
Ga terlalu shock juga sih karena sebelumnya udah tau kenapa dari kecil ga bisa ngebedain ijo, coklat, ungu, de el el. Oh ya jangan lupa gradasi warna, saya benci pelajaran mewarnai saat TK. Haha. Efeknya sih sekarang ga bisa ngambil jurusan-jurusan yang mesti pake syarat buta warna dan paling di cengin pas ngumpul. Itu paling sisi menyebalkan-nya. hahaha
Tapi serius, gimana sih rasanya bisa membedakan warna? karena saya pribadi sulit ngeliat warna-warna terang di jalanan ketika malam hari *makanya sering nyetir pelan
, sulit ketika mencari arah di stasiun luar Indonesia yang non-English *otomatis patokannya warna,
sulit baca legenda dari peta, dan hal sederhana namun menakjubkan lainnya.
But hey the most fun part of this thing isĀ “U.S. Army found that color blind people could spot camouflage colors that fooled those with normal color vision”.So basically we equipped with Eagle Vision from Assassin’s Creed. Nyiehehehe.
